FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    27 07-2022

    284

    Tahun Depan, Indonesia Akan Luncurkan Tiga Satelit

    Kategori Berita Kominfo | Yusuf

    Florida,  Kominfo - Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan tiga satelit Indonesia akan meluncur ke orbit menggunakan Roket Falcon-6 yang dioperasikan Space X. Menteri Johnny menyatakan ketiga satelit itu akan diluncurkan tahun depan. 

    “Pertama, di bulan Mei, Satelit Hot Backup buatan Boeing. Kedua, akan digunakan untuk mengantar Roket SATRIA-1 di bulan Juni atau Juli. Ketiga, untuk mengantar Satelit Telkom- Sat yang jadwalnya sedang disusun,” jelasnya usai pertemuan dengan perwakilan perusahaan Space-X, di Florida Amerika Serikat, Selasa (26/07/2022).

    Menurut Menteri Johnny Roket Falcon-6 ini merupakan satelit yang sudah biasa digunakan dan bukan untuk satu kali peluncuran. “Rocket Falcon-6 ini digunakan untuk mengantar High Throughput Sattelite (HTS) kita ke orbit dan kembali lagi ke bumi. Jadi, ini adalah shuttle, mengantar dan kembali,” tuturnya. 

    Menkominfo berharap proses peluncuran akan berlangsung lancar dan penempatan orbit satelit sesuai dengan waktu yang dijadwalkan. “Sebagai roket yang sudah biasa mengantar rocket ke orbit, kita yakin lah mudah-mudahan semuanya berjalan lancar agar nanti dua satelit kita baik itu satelit Hot Backup Boeing maupun Satelit SATRIA-1 itu bisa diluncurkan pada waktunya dan ditempatkan di orbit dengan baik,” ungkapnya. 

    Menteri Johnny menyatakan satelit HBS dan SATRIA dapat beroperasi pada kuartal keempat tahun 2023. Setelah diluncurkan, pada tahap pertama HBS akan digunakan untuk melayani 20.000 titik fasilitas layanan publik di seluruh Indonesia. 

    “Nah, jadwalnya, satelit-satelit ini akan secara komersial (operation date) akan dilakukan di kuartal keempat tahun 2023,” tuturnya.

    Menurut Menkominfo, pembuatan Satelit HBS maupun HTS turut melibatkan Pasifik Satelit Nusantara (PSN).  “Untuk Satelit SATRIA-1 itu namanya PSN-N3 yang akan melakukan operation and maintenance. Sedangkan Satelit Boeing yang disebut dengan PSN-N5, itu juga nanti operation and maintenance akan dilakukan juga oleh PSN sebagai satelit privat,” jelasnya.

    Dengan peluncuran satelit itu, Indonesia akan memiliki kapasitas satelit sebesar 2 X 150 Gbps. Namun, Indonesia akan menggunakan total 230 Gbps. “Yang 150 Gbps SATRIA-1 dipakai semuanya oleh Indonesia. Sedangkan 150 Gbps Hot Backup Boeing, 80 Gbps dipakai untuk Indonesia dan 70 Gbps sisanya akan digunakan oleh negara Filipina dan Malaysia.  Kenapa harus sampai dipakai oleh Malaysia dan Filipina (selain Indonesia)? Karena ini KPBU, kalayakan commercial-nya juga harus kita ukur. Kan ada pertimbangan-pertimbangan commercial dan finance juga,” jelas Menteri Johnny.

    Menkominfo  menyatakan pengangkutan satelit biasanya menggunakan pesawat terbang kargo berbadan besar. “Pesawat terbang jenis yang mengangkut satelit disebut dengan Antonov-124. Pesawat ini ada di Rusia, yang saat ini enggak bisa terbang karena masalah perang itu ada tujuh.Sedangkan yang berada di Ukraina ada delapan. Di sana, satu sudah hancur karena perang yaitu Antonov-225. Dari ketujuh yang tersisa, tiganya tertahan. Ada empat yang berada di luar Ukraina, yang sekarang melayani seluruh dunia,” jelasnya.

    Dengan keterbatasan pesawat pengakut, menurut Menteri Johnny, akan segera dicari alternatif. “Kemungkinannya untuk SATRIA, itu akan menggunakan jalur transportasi laut dari Prancis pakai kapal laut dibawa ke Florida atau menyeberang laut Atlantik. Itu butuh waktu sekitar dua minggu transportasi, demikian pula satelitnya Boeing (Hot Backup) akan menggunakan transportasi darat dari tempat produksinya di Pasadena ke Florida, butuh waktu 9 hingga 10 hari perjalanan darat dengan kontainer khusus,” jelasnya.

    Demikian pula dengan mobilitas perangkat satelit di Amerika. Menurutnya, meski jalan di Amerika semuanya freeway atau bebas hambatan, namun jam perjalanan tidak bisa dalam 24 jam berjalan bebas karena harus diatur agar tidak mengganggu transportasi darat lainnya. 

    “Mengapa sampai 9-10 hari padahal di Amerika? Karena harus berjalan tidak bisa cepat, jadi perlu menjaga vibrasi supaya satelitnya tetap aman. Di Amerika itu diatur betul, jadi diperkirakan 9 sampai 10 hari sehingga dengan demikian sudah ada solusi,” ungkap Menkominfo.

    Namun demikian, Menteri Johnny optimistis masalah logistik dan transportasi ini hanya mempengaruhi sedikit commercial operation date. “Sejauh ini commercial operation date-nya masih tetap seperti jadwal yang kita rencanakan. Pasti ada pengaruhnya, banyak sekali. Jadi ada produksi chips, logistik dan seterusnya, tetapi satu hal yang sangat berpengaruh adalah ketersediaannya peralatan transportasi satelit karena kita perlu mengantarkan atau membawa satelit dari Prancis untuk diluncurkan di Florida, Amerika Serikat,” tuturnya. 

    Berita Terkait

    Lewat DEMM G20, Argentina dan Indonesia Jajaki Peluang Kerja Sama TIK

    Selengkapnya

    Awas Hoaks! Cara Hentikan Lonjakan Protein Spike Akibat Vaksin

    Konon pesan berantai itu juga menjelaskan cara mengeluarkan tembakau dari rokok, meredamnya lalu meminum air rendaman tembakau tersebut. Selengkapnya

    Diiringi Sasando, Dua Lagu Indonesia Pukau Delegasi DEWG G20

    Sambutan delegasi sangat antusias ketika Maria menyanyikan dua lagu khas Indonesia itu. Selengkapnya

    Tiba di Labuan Bajo, Menkominfo Akan Buka Pertemuan Ketiga DEWG G20

    Dalam kunjungan kerja kali ini, Menteri Johnny akan menghadiri dan membuka Pertemuan Ketiga Digital Economy Working Group Meeting (DEWG) Pre Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA